Senin, 28 Februari 2011

BE PASSIMISTORY : Johannes Natanael Sianturi "Sebuah Pengakuan"

Hidup adalah perjuangan. Saya adalah seorang mahasiswa komunikasi UI 2010. Saya adalah seorang yang bisa dikatakan bersemangat dan cukup serius dalam hal-hal yang saya senangi. Memenangkan beberapa perlombaan membuat saya cukup percaya diri. Begitulah perkenalan singkat saya.
Hari ini tanggal 28 Februari 2010 adalah hari yang cukup berarti bagi saya. Jujur kampanye BE PASSIMIST ini adalah salah satu bagian dari lomba AdWar - Pekan Komunikasi 2011 yang saya dan teman saya - Muffie ikuti. Dan hari ini adalah pengumuman 10 finalis yang lolos ke babak final. Juri menentukan hanya ada 9 finalis yang layak masuk ke babak final dan sayangnya kami bukanlah pasangan yang beruntung kali ini. Well, i am down ! Beberapa pengorbanan telah tertuang dalam proses perlombaan ini. Yaa, kemarin juga saya merasa sangat pesimis. Singkat saja, poinnya adalah before we ask someone to change, we must change first !  Cukup sepertinya bagi saya untuk tidak memperhartikan esensi dari apa yang saya lakukan, i won the 2nd place speech contest - Prov. SUMUT 2008 about reading --> But i don't like reading, i'am one of the reef ambassador --> but i don't love the reef it self.. 


So yaa, berat memang untuk mengakui hal memalukan seperti ini, namun yang pasti kegagalan kali ini benar-benar menyesakkan hati saya dan memaksa saya untuk berbagi hal ini ke teman-teman sekalian.
Semoga kita bisa melangkahkan kaki kita sebelum kita memaksa orang untuk melangkah.
Seperti senjata makan tuan memang, tapi saya sungguh bersyukur dengan segalanya. Hal ini sungguh menyadarkan saya untuk dapat bertindak lebih baik lagi dan lebih berlapang dada. Like what my friend said :
"Just give our best, if we fail it means our best is not enough to be the best, at least we've given our best"


So guys, semoga blog ini masih bisa jalan dan menginspirasi teman-teman sekalian.
Don't be pessimist just BE PASSIMIST :)

Minggu, 27 Februari 2011

BE PASSIMISTORY : Seorang mahasiswa yang tidak mau di-publish identitasnya

PART 1
Bercerita tentang mimpi mimpi, cita – cita, harapan, lagu lagu barat, berpikir positif dan cinta, sekarang memenuhi otak yang sebenarnya  telah penuh dengan aktivitas sehari – hari yaitu, kampus, kuliah, tugas dan deadline yang mengisi hari – hariku di kontrakan tiga kamar-satunya kamar mandi- berukuran sekitar 7x8 M atau malah lebih? Aku kurang tahu, yang terpenting, inilah hidupku sekarang, menjadi orang insomnia, tidur kurang dari  5 jam sehari dan main Pro Evolution Soccer seperti penghisap ganja, istilahnya addicted atau kecanduan, ini kulakukan untuk mengalihkan pikiran juga, karena sehari hari kalau tidak tugas, kuliah, atau tidur,  yang kupikirkan hanya orang lain yang jauh di sana, bukan siapa –siapa, cuek, sulit ditebak dan kadang membingugkan, namun akun mau berbaut apa saja yang kubisa untuk membuatnya tersenyum, entah bagaimana caranya, karena kupikir ia adalah energi hidupku, di masa lalu, sekarang dan untuk hari esok di mana aku harus menyambutnya baik – baik. Tapi itu sekarang.
Dulu jangan harap aku memiliki mimpi, jangan bicara soal cita – cita di depan hidungku, berpikir positif?? Yang kupikirkan adalah hari – hai gelap setelah UN karena aku tak punya tujuan hendak kemana setelahnya, maungkin bekerja,itu yangselalu ditekankan leh keluaragaku, agar mandiri secepatnya, menyususl kakak – kakakku yang telah bekerja dan meringankan beban orangtua. Namun dalam pikiranku, apa gunanya lulusan SMA sekarang?? Tanggung, aku pernah berpikir untuk melanjutkan, namun itu pun STAN, yang mendapat ikatan dinas, sehingga mudah dalam mencari kerja, selain itu, gelap.
Sampai suatu ketika ada suatu peristiwa yang membuatku berubah, aku merasa membuat sebuah kesalahan paling buruk yaitu dengan membuat sesorang yang sangat kusayangi dan kucintai untuk pertama kalinya, membuatnya tidak tersenyum lagi, terutama setiap kali bertemu muka denganku, dan itu sungguh membuatku sangat sedih. Kemudian aku berpikir, untuk berbuat sesuatu, entah bagaimana, aku harus membuatnya tersenyum lagi, dengan cara apapun, namun aku harus berubah dulu, tidak sekarang, tidak seperti ini.
Hinga suatu hari, senior – seniorku dari Universitas Indonesia, masuk ke kelasku, dan memberikan informasi yang berharga sekali, dan aku pun saat itu mulai merancang target, mimpi dan cita – cita.. saat itu adalah Januari 2010.
Namun rencana ini sangat sulit untuk dijalankan, Ayahku sama sekali tidak memiliki toleransi untuk ini, tidak ada alasan untuk beliau membiayaiku kuliah, apalagi di Universitas Indonesia, yang menurut beliau tergolong sangat mahal dan meski sudah kucoba untuk menjelaskan bahwa itu salah, bahwa Biaya Operasioal Pendidikan dapat diubah menjadi angka nol mutlak, bahwa basiswa sangat banyak derserakan di sana, beliau tetap teguh pada pendiriannya, mulai malam itu, genderang perang dengan ayahku yang keras kepala sepertiku dimulai.
Kemudian, setelah malam itu, tiap kali membicarakan masa depan, yang terjadi adalah kekacauan, karena masing – masing teguh pada pendiriannya. Dan kebetulan ini terjadi pada saat kurang dari tiga bulan menjelang Ujan Akhir Nasional, sangat menguji mental dan pikiran, sebelum ujian yang sebenarnya. Namun, tiap kali aku ingat senyumnya, aku selalu kembali ke titik tertinggi semangatku, kubuka lagi lembar – lembar lusuh soal – soal tahun lalu SIMAK UI, UAN dan USM STAN, jarang ku terpejam malam – malam itu.
Akhirnya UAN pun tiba, sebelum harinya tiba, perseteruan dengan keluargaku semakin meruncing, suatu minggu pagi yang suram, kakakku menelepon, dan mengatakan, akan mengganti biaya pendaftaran untuk SIMAK UI sebesar dua ratus ribu rupiah ditambah dengan handphon seharga satu setengah juta kalau aku mau membatalkan diri untuk ikut SIMAK UI ini. Terang aku menolak, kemudian Ia mengatakan sebuah kalimat yang paling gila, bahwasanya ia akan selalu menunaikan ibadah salat Tahajjud tiap malam dan berdoa agar aku tidak lulus ujian sekaligus tidak diterima di UI, dengan hati gembira kututup telepon   itu, kusambut tantangannya denag tangan terbuka, kulihat langit, kulukis wajahnya di sana, Ia tersenyum, aku melambung, dalam hati aku berkata,”Akan Kubuktikan”.

Sabtu, 26 Februari 2011

TEASER - BE PASSIMIST


IIni adalah teaser BE PASSIMIST, maaf atas keterlambatan nge-post teaser ini. Sountrack yang dipakai adalah theme song resmi BE PASSIMIST, buat teman-teman yang mau menyanyikannya dan diabadikan dalam bentuk video juga bisa mengirimkan link setelah di-upload ke email be.pessimist@gmail.com .. Terima kasih :)

PERSIMIST Episode 4 (Spesial) : Aktivis dan Artis Dewi Hughes


Siapa bilang orang sukses tidak pernah merasa pesimis? Duta Taman Baca ini ternyata juga pernah merasa pesimis, dan yaa dengan mensyukuri kkehidupan dan enjoy pekerjaannya Dewi Hughes bisa menjalaninya, simak perbincangannya di clip PERSIMIST di atas..

Pesimis adalah objek sementara kita adalah subjek. Mufie memakan steak --> menjadi tidak benar jika berubah menjadi Steak memakan Mufie. So, jadilah subjek yang benar -benar mengendalikan objek :)

Jumat, 25 Februari 2011

BE PASSIMISTORY : Athia Dewi Fadhlina


http://bepassimist.blogspot.com/

This post is dedicated to helping my friend Jojo and his campaign in raising people’s awareness on the importance of optimism. Pardon my slang and informal Indonesian.
                   

Hal yang paling susah saat kita membuat suatu karya tulis terletak pada saat pembuatan paragraf pembuka. Jika kita berhasil menarik perhatian orang dengan untaian kalimat- kalimat pertama, biasanya kita akan berhasil membuat orang tersebut membaca karya tulis kita sampai akhir. Skenario ini adalah salah satu instansi kejadian dimana seseorang bisa merasa pesimis atau optimis. Kata kunci yang menyatukan dua keadaan tersebut adalah attitude. Sikap seseorang lah yang pada akhirnya akan menjadi akar dari prinsip dan nilai-nilai yang dipegang oleh orang tersebut. Semua yang ada di dunia ini punya sisi hitam dan putihnya, positif dan negatifnya. Contoh scenario-  hari itu hujan turun dengan deras. Apakah kita mau mengeluh akan jalanan yang akan becek dan Jakarta menjadi macet, atau bersyukur akan udara Indonesia yang akan cenderung menjadi adem saat hujan dan pohon- pohon bisa mendapatkan limpahan air? Pada saat inilah, terserah kita sebagai manusia untuk melihat sesuatu dari sisi buruk atau baiknya.
Gue pasti juga pernah pesimis. Atau, kalo boleh gue bilang- merasa takut. Takut apaan? Ya banyak. Misalnya nih ya- takut salah. Takut gagal. Mengapa gue lebih suka panggilan penakut daripada pesimis? Karena menurut gue pribadi, seseorang menjadi pesimis saat rasa takut atau ketidak percayaan dirinya menghambat untuk berkembang. Sekarang aja sebenernya gue masih ada rasa takut sambil nulis ini. Takut tulisan ini dianggep orang- orang aneh. Takut tulisan ini dibaca banyak orang (dan lo yang lagi baca ini bakal mikir, kalo lo ngk mau ini dibaca ngapain lo kirim deh ath?). Well, gue tetep kekeuh mengirimkan tulisan ini karena gue mau memberi contoh akan berani melakukan sesuatu meskipun lo belum sepenuhnya ngerasa percaya diri. Bahwa ini adalah contoh murni dari being a person who this campaign advocates, a passimist. Gampang loh buat gue untuk nge-delete semua kata- kata ini dan keep all these opinion to myself. Bilang aja ke Jojo, temen gue yang ngasih link campaign ini dan merupakan salah satu pelopor “Wah keren banget jo campaign lo, sayang gue ngk ada ide mau nulis apa. Goodluck ya!”
… Tapi nyatanya sekarang gue masih aja terus menulis opini sekaligus curhat colongan ini. Gue mungkin bukan seorang penulis yang handal, yang akan menggerakan hati lo untuk ikut serta berbagi cerita. Mungkin aja ini post publik pertama gue. Mungkin biasanya gue cuma berani menulis di tumblr pribadi, di buku, di Microsoft word dan disimpen dengan file name palsu biar ceritanya tugas kuliah biar orang ngk ada yang baca. But this time, I’m taking a leap of faith.
Mungkin gue adalah salah satu cewek klasik yang salah satu penyanyi favoritnya adalah Taylor Swift. Salah satu albumnya berjudul Fearless, dan pada bagian belakang CDnya, dia menulis
“This album is called FEARLESS, because to me “fearless” is not the absence of fear. Its not about being completely unafraid. To me, fearless is having fears. Fearless is having doubts. Lots of them. To me, fearless is living in spite of those things that scare you to death”.
Kata- kata ini ngena banget di gue, dan inilah salah satu pedoman yang membuat saya berani mencoba. It is okay to expect the worse, to feel pessimistic, but at the end of the
day it should not stop you to do anything. Pikir deh… Dua puluh tahun dari sekarang, kita akan lebih menyesal dengan hal- hal yang tidak kita lakukan ketimbang hal- hal yang sudah kita lakukan dan gagal.

Dengan bangga gue bisa bilang, I’ve conquered my fears and contributed my voice to this campaign.

Now it’s your turn.

visit her blog at http://atheeya.tumblr,com 
:)

BE PASSIMIST THEME SONG

http://jojonael.tumblr.com/post/3494114246/be-passimist-reff-just-saying-be-passimist

Untaian kata dalam balutan harmoni melodi, selamat mendengarkan dan menghayati lirik lagu ini.
Semoga kepesimisan perlahan an pasti dapat kita tangani :)

Kamis, 24 Februari 2011

PERSIMIST Episode 1 : Abang Tukang Siomay


 Persimist adalah salah satu subprogram dari program kampanye BE PASSIMIST. Episode pertama ini kami mewawancara seorang abang tukang siomay. Dan ternyata abang ini juga memiliki kepesimisan dimana ia takut bersaing dengan penjual lain serta takut diusir oleh patroli. Nyatalah sudah bahwa pesimis ada di semua lapisan masyarakat. Nantikan Persimist episode selanjutnya :)

Karena kehidupan adalah anugerah, bersyukurlah dan gunakan waktumu sebaik mungkin. So don't be pessimist just be passimist :)

BE PASSIMISTORY : Widya Arifianti

Are you sure you want to delete your dreams?
Gue jago nulis. Kata orang-orang.
 Sebenernya nggak murni kata orang juga sih, beberapa orang yang pernah gue cekokin tulisan gue mengakui kalau gue punya bakat nulis. Berbekal pengakuan mereka itu, gue memutuskan bahwa gue bakal jadi penulis.  Setiap hari sepulang sekolah gue selalu setia nangkring di depan laptop, saat perjalanan pulang dan pergi sekolah pun gue selalu memikirkan jalan cerita yang bakal gue buat. Gue ngerasa enjoy banget sama dunia penulisan ini, walaupun gue masih pemula. Gue yakin suatu saat nanti dunia penulisan ini bakal menjamin kelangsungan hidup gue. Enak kan kalo kita kerja sesuai dengan bidang yang kita minatin?
Tapi angan-angan gue untuk menjadi penulis pupus sudah ketika gue gagal jadi pemenang dalam lomba nulis dan sepertinya Tuhan belum puas menguji gue, naskah gue ditolak berkali-kali. Saat itu, gue ngerasa bahwa pengakuan temen-temen gue kalau gue jago nulis itu  sebenarnya  cuma buat ngehibur gue. Kali aja temen gue udah kepalang bosan dengar sinopsis cerpen gue yang selalu gue ceritain dengan semangat dan berapi-api sampai-sampai  gue jadi pusat perhatian. Bukan jadi pusat perhatian gara-gara cerita gue menarik, tapi gaya bercerita gue yang bikin orang-orang pengen ngarungin gue dan ngelempar gue ke bak sampah terdekat.
Saat itu gue ngerasa jadi sampah. File-file novel gue yang menemukan ending pun gue buang dengan emosi sesaat. Gue baru menyesal setelah gue mengclick kata yes pada pertanyaan Are you sure you want to delete this file?
Rutinitas gue berubah saat itu. Laptop yang sering gue pake buat nulis pun berubah fungsi jadi alat buat main games doang. Bersamaan dengan itu, cita-cita gue untuk menjadi penulis gue kubur dalam-dalam. Di luar sana, masih banyak penulis-penulis yang hebat dan BENAR-BENAR berbakat. Gue takut bersaing, apalagi kemampuan menulis gue menunjukkan kalau gue nggak pantas untuk bersaing. Ketika gue lihat deretan buku-buku best seller  yang terpajang di setiap toko buku, gue cuman bisa menelan ludah. Buku-buku gue nggak bakal mungkin bersanding dengan buku-buku para penulis bestseller itu.
Kekalahan gue ternyata berimbas dengan hubungan sosial gue. Pertanyaan teman-teman seputar progress tulisan-tulisan gue pun gue tanggapi dengan sewot seperti halnya gue menanggapi penerbit-penerbit nggak tahu diuntung itu.  Gue yang saat itu lagi kacau menganggap teman-teman gue sengaja nyindir gue pas mereka nanya tentang progress tulisan gue. Hal yang sama pun terjadi ketika seorang teman gue yang sering juara lomba nulis menanyakan progress tulisan gue.  Gue awalnya heran, kok bisa-bisanya ya dia sering juara lomba nulis? Padahal tulisannya biasa-biasa aja, nggak ada gregetnya. Malah terkesan mirip sinetron. Saat itulah gue mengira bahwa ada yang salah dengan selera  para juri lomba menulis yang diikuti oleh teman gue itu.
Semakin hari, rasa iri hati yang gue alami semakin menumpuk . Namun, pada suatu hari, dengan ego yang sedikit gue tekan, Gue nanya sama temen gue yang jago nulis itu, “Apa sih resep nulis lo sampe-sampe lo sering juara lomba nulis?”
Temen gue yang rendah hati itu menjawab,”Resepnya ini…”katanya sambil menunjuk ke dadanya.
‘ WUH! GOMBAL! Lo pikir selama ini gue nggak nulis pake hati juga apa?!’
“Kita harus punya mental juara…”katanya. “Kita harus siap menang, siap kalah. Siap mengapresiasi, siap diapresiasi,”ucapnya yang bikin gue jadi sadar akan suatu hal yang udah gue lupain. Gue itu pesimis. Gue nggak siap menerima kekalahan. Kekalahan-kekalahan yang udah gue alamin bukannya memotivasi gue, malah bikin gue selalu kalah sebelum bertanding. Gue belum punya mental juara seperti yang temen gue punya.
Kesombongan gue di awal  sudah menjatuhkan gue dan membentuk mental pesimis. Ketika berada di atas, gue sombong. Ketika  gue jatuh, gue pesimis. Mulai saat itu, gue mulai merubah mindset gue. Kekalahan-kekalahan gue yang lalu seharusnya patut gue syukuri karena kekalahan-kekalahan itulah yang bikin gue semangat untuk membuktikan diri kalau gue bisa. Selain itu, gue pun sadar kalau sifat sombong yang gue punya itu semakin membuktikan bahwa gue itu butuh pengakuan.
Sejak saat itu, gue memutuskan untuk bangkit kembali.  Gue mulai rajin nulis lagi meskipun sikap pesimis gue masih tersisa. Tulisan-tulisan gue pun gue bagi-bagikan ke teman-teman dekat gue untuk diapresiasi. Gue minta mereka untuk mengkritik naskah gue secara jujur. Dan, benar saja, naskah-naskah gue masih punya banyak kekurangan. Tapi poin positifnya, gue jadi tahu dimana salahnya, dimana kurangnya. Semakin cepat kita tahu bahwa kita salah, berarti semakin cepat juga kita menemukan kebenaran.  Semakin kita berani melakukan hal-hal yang baru tanpa takut salah, semakin dekat pula kita pada kebenaran sejati. Seperti halnya ketika kita sering jatuh saat belajar bermain sepeda roda dua, kita justru akan mencari cara untuk tidak jatuh. Kebangkitan bukanlah sesuatu yang mengesankan tanpa didahului oleh keruntuhan.
So, are you sure you want to delete your dreams?
NO, tentu saja.
WIDYA ARIFIANTI
*penulis adalah mahasiswi labil yang sering melakukan kesalahan

Selasa, 22 Februari 2011

BE PASSIMISTORY : Qonita Sukma Hutami

Dunia, Kau Mengajarkanku Kehidupan
Oleh Qonita Sukma Hutami


Ketika hujan menyapu teriknya matahari
Ketika lembayung senja menggantikan cengkraman sang penguasa hari
Ketika alunan harmoni nada mengalahkan heningnya perasaan hati
Seketika itu pula aku tersadar dari lamunan asa tak sampai
Menjadi sebuah batang pohon tua bukanlah pilihan hidupku
Tak bisa menjadi pohon yang bermanfaat bukanlah keinginanku
Aku memang besar dan kokoh
Umurku tidak kurang dari satu abad
Namun aku tak bisa memberi apa-apa pada sekitarku
Aku selalu dianggap sebagai pohon yang menakutkan karena kata mereka banyak makhluk tak tampak mata yang menjadikanku tempat peristirahatannya
Aku berdiri sendiri dipersimpangan jalan saint-jacques, paris
Di kota mode dunia yang selalu dipenuhi oleh orang-orang dari seluruh pelosok dunia
Walaupun disekitarku penuh akan aktivitas dunia tetapi aku tetap merasa sendiri
Sampai pada suatu hari aku mendengar celotehan anak-anak kecil itu
“Lihatlah pohon itu! Pohon itu kuat dan kokoh tapi mengapa terlihat bersedih?”
Celotehan anak itu seperti kicauan burung yang membangunkan dengan damai penduduk kota setiap pagi
Jiwaku bangkit
Kembali aku lihat anak itu dan ia kembali berbicara dengan teman sebayanya
“Aku seorang penderita leukimia dan hidupku tak lebih dari tiga bulan lagi tapi aku masih bisa berlari, tersenyum dan bercanda tawa dengan kalian. Tak peduli Tuhan akan memanggilku kapan, yang pasti aku mau menghabiskan sisa hidupku dengan riang.”
Seperti ada anak panah yang panas menghujam batinku
Aku yang terlihat kokoh selama ini ternyata tak lebih dari kata pecundang
Mengalah pada rasa takut dalam diriku sendiri
Aku tak melihat sekelilingku dengan hati
Aku hanya melihat mereka dengan dasar kedengkian hati
Aku selalu melihat mereka bahagia
Aku tak pernah mencoba untuk melihat mereka yang sedang dirundung kesedihan
Aku egois
Aku pembohong pada diriku sendiri
Dan aku selalu pesimis pada hidupku lalu iri pada hidup orang lain
Malaikat kecil itu memberikan pelajaran yang menjadi titik tolak pada hidupku
Akhirnya aku berusaha pulih dari ketakutan diriku sendiri
Batang pohonku kembali padat dan berwarna cokelat menyenangkan
Ranting-ranting mulai tumbuh memanjang disekujur batang yang menaunginya
Dedaunan rimbun nan hijau hidup kembali menyegarkan jiwa
Aku telah hidup kembali!
Berselang lima bulan dari kelahiran kembali diriku untuk menghiasi hidup orang-orang disekitarku
Aku melihat kerumunan orang sedang berjalan ke arah tempat aku berdiri
Lalu kereta jenazah itu melewatiku dengan damai dan diiringi tangisan sendu disekelilingnya
Aku perhatikan dengan cermat
Tuhan, malaikat kecilku telah kau panggil dengan damai
Ia kembali ke pelukanMu dengan senyum menghiasi bibir kecil nan merona itu
Terima kasih karena Engkau telah memberinya dua bulan lebih lama untuk hidup di dunia dan bermain bersamaku
Terima kasih karena Engkau telah mengirimkannya kepadaku untuk menghidupkanku kembali
Dua hari setelah hari pemakaman daun-daunku berguguran
Batang pohonku menjadi lemah dan ranting-rantingku jatuh satu persatu ke permukaan bumi
Sudah lelah aku hidup di dunia
Kini saatnya pohon kecil disampingku untuk tumbuh dewasa belajar mengenai hidup
Hari ini aku kembali padaMu, Tuhan
Biarkan orang-orang itu merobohkan tubuh rentaku ini
Aku ingin menjadi pohon pelindung untuk malaikat kecilku di surga
Aku bahagia dapat meninggalkan dunia dengan melihat kota tempatku berdiri selama satu abad, kini dapat menjadi lebih hangat
Selamat tinggal dunia
Terima kasih atas semua pelajaran hidup yang kau berikan

BE PASSIMIST CLIP : Try and Error


Jangan mengharapkan hasil kalau mau mendapatkan hasil ! Semua film-film terkenal yang pernah ada di muka bumi mengalami hal yang sama seperti di video ini, namun hasilnya apa? Ga sedikit dari film-film yang mengalami kegagalan tersebut mendapatkan penghargaan yang baik. So, kenapa mesti takut salah kalau salah bisa jadi alat untuk mencapai kesuksesan?
Try and error !