PART 1

Bercerita tentang mimpi mimpi, cita – cita, harapan, lagu lagu barat, berpikir positif dan cinta, sekarang memenuhi otak yang sebenarnya telah penuh dengan aktivitas sehari – hari yaitu, kampus, kuliah, tugas dan deadline yang mengisi hari – hariku di kontrakan tiga kamar-satunya kamar mandi- berukuran sekitar 7x8 M atau malah lebih? Aku kurang tahu, yang terpenting, inilah hidupku sekarang, menjadi orang insomnia, tidur kurang dari 5 jam sehari dan main Pro Evolution Soccer seperti penghisap ganja, istilahnya addicted atau kecanduan, ini kulakukan untuk mengalihkan pikiran juga, karena sehari hari kalau tidak tugas, kuliah, atau tidur, yang kupikirkan hanya orang lain yang jauh di sana, bukan siapa –siapa, cuek, sulit ditebak dan kadang membingugkan, namun akun mau berbaut apa saja yang kubisa untuk membuatnya tersenyum, entah bagaimana caranya, karena kupikir ia adalah energi hidupku, di masa lalu, sekarang dan untuk hari esok di mana aku harus menyambutnya baik – baik. Tapi itu sekarang.
Dulu jangan harap aku memiliki mimpi, jangan bicara soal cita – cita di depan hidungku, berpikir positif?? Yang kupikirkan adalah hari – hai gelap setelah UN karena aku tak punya tujuan hendak kemana setelahnya, maungkin bekerja,itu yangselalu ditekankan leh keluaragaku, agar mandiri secepatnya, menyususl kakak – kakakku yang telah bekerja dan meringankan beban orangtua. Namun dalam pikiranku, apa gunanya lulusan SMA sekarang?? Tanggung, aku pernah berpikir untuk melanjutkan, namun itu pun STAN, yang mendapat ikatan dinas, sehingga mudah dalam mencari kerja, selain itu, gelap.
Sampai suatu ketika ada suatu peristiwa yang membuatku berubah, aku merasa membuat sebuah kesalahan paling buruk yaitu dengan membuat sesorang yang sangat kusayangi dan kucintai untuk pertama kalinya, membuatnya tidak tersenyum lagi, terutama setiap kali bertemu muka denganku, dan itu sungguh membuatku sangat sedih. Kemudian aku berpikir, untuk berbuat sesuatu, entah bagaimana, aku harus membuatnya tersenyum lagi, dengan cara apapun, namun aku harus berubah dulu, tidak sekarang, tidak seperti ini.
Hinga suatu hari, senior – seniorku dari Universitas Indonesia, masuk ke kelasku, dan memberikan informasi yang berharga sekali, dan aku pun saat itu mulai merancang target, mimpi dan cita – cita.. saat itu adalah Januari 2010.
Namun rencana ini sangat sulit untuk dijalankan, Ayahku sama sekali tidak memiliki toleransi untuk ini, tidak ada alasan untuk beliau membiayaiku kuliah, apalagi di Universitas Indonesia, yang menurut beliau tergolong sangat mahal dan meski sudah kucoba untuk menjelaskan bahwa itu salah, bahwa Biaya Operasioal Pendidikan dapat diubah menjadi angka nol mutlak, bahwa basiswa sangat banyak derserakan di sana, beliau tetap teguh pada pendiriannya, mulai malam itu, genderang perang dengan ayahku yang keras kepala sepertiku dimulai.
Kemudian, setelah malam itu, tiap kali membicarakan masa depan, yang terjadi adalah kekacauan, karena masing – masing teguh pada pendiriannya. Dan kebetulan ini terjadi pada saat kurang dari tiga bulan menjelang Ujan Akhir Nasional, sangat menguji mental dan pikiran, sebelum ujian yang sebenarnya. Namun, tiap kali aku ingat senyumnya, aku selalu kembali ke titik tertinggi semangatku, kubuka lagi lembar – lembar lusuh soal – soal tahun lalu SIMAK UI, UAN dan USM STAN, jarang ku terpejam malam – malam itu.
Akhirnya UAN pun tiba, sebelum harinya tiba, perseteruan dengan keluargaku semakin meruncing, suatu minggu pagi yang suram, kakakku menelepon, dan mengatakan, akan mengganti biaya pendaftaran untuk SIMAK UI sebesar dua ratus ribu rupiah ditambah dengan handphon seharga satu setengah juta kalau aku mau membatalkan diri untuk ikut SIMAK UI ini. Terang aku menolak, kemudian Ia mengatakan sebuah kalimat yang paling gila, bahwasanya ia akan selalu menunaikan ibadah salat Tahajjud tiap malam dan berdoa agar aku tidak lulus ujian sekaligus tidak diterima di UI, dengan hati gembira kututup telepon itu, kusambut tantangannya denag tangan terbuka, kulihat langit, kulukis wajahnya di sana, Ia tersenyum, aku melambung, dalam hati aku berkata,”Akan Kubuktikan”.